Aku dan Bunga

Mengapa aku menulis tentang bunga? Ya karena sedang ternspirasi dari buku yang aku baca, judulnya “Ketika Bunga Bicara”. Buku pinjaman dari sepupuku Ninna. Entahlah rasanya kenangan-kenangan tentang bunga di dalam hidupku juga lewat satu per satu yang buat tergelitik untuk segera menuliskannya sebelum lupa. Ini bukan tentang kisah cinta ya, rasanya tak seorang pun yang pernah berlutut memberiku bunga. Jiah….. Mengapa aku bilang ini, seperti aku mau sekali diperlakukan seperti itu walaupun sebenarnya hanya sekali juga tidaklah buruk.

Bunga ya, aku suka bunga mawar. Soalnya selain cantik, indah, mawar juga harum. Terutama mawar merah. Ketika dulu aku menemui bunga mawar, ternyata baunya itu beda-beda. Kukira mulanya sama, ternyata beda baunya jika warna mawarnya beda. Aku pernah lihat mawar pink, ternyata baunya kurang aku suka. Dulu ketika masa SMP, aku ingin sekali punya bunga mawar jadi aku minta steknya dari teman sekampung namanya Ida. Kuingat betapa frustasinya perasaanku ketika melihat tangkai mawar itu tak tumbuh-tumbuh di potnya. Malah dari ujung atas tangkai tersebut sudah mulai kecoklatan. Perlahan-lahan dari atas kebawah yang mulanya hijau. Setelah penantian yang sangat lama dan tak sabaran, akhirnya mawar itu tumbuh juga. Alhamdulillah… Mawar itu sekarang masih ada dirumahku, ada yang di pot dan ada juga yang di halaman. Mawar yang aku punya itu mawar yang bunganya agak kecil bukan seperti mawar yang aku lihat di film atau yang di jual di toko bunga. Kalau tidak salah ingat rasanya aku juga pernah punya mawar putih dan pink deh. Atau itu Cuma yang aku tanam tapi tidak tumbuh? Entahlah, lupa. Tapi yang tidak kulupa adalah mawar kuning. Pernah aku ke pasar dan membeli bibit mawar itu. Bibit mawar yang sudah ada bunganya, bunganya besar. Namun sayangnya, aku tak berhasil menumbuhkannya. Sedih sekali aku ketika itu. Aku punya impian, ketika nanti aku punya rumah sendiri, aku ingin punya mawar yang menjalar ke dinding seperti mawar di dinding “The Secret Garden”, novel terjemahan yang ceritanya bagus sekali. Mawar itu akan memenuhi dinding depan rumahku. Aku juga ingin punya taman seperti di Secret Garden, ah hayalan tingkat tinggi lagi ini, Hm.

Di rumahku itu ada banyak tanaman hias yang sayangnya agak kurang terawat dan tidak beraturan. Di teras depan rumah ada tangga dua tingkat yang memanjang sepanjang teras itu sendiri. Nah di dua tangga itulah berjejer tanaman hias dalam pot. Semua bunga yang ada di situ punya kisah masing-masing. Ada yang diambil dengan jelas namun ada juga yang diambil diam-diam. Duh… masa laluku. Minta maaf ya atas bunga yang diambil diam-diam bibitnya bagi orang yang merasa dirugikan. Itu dulu di zaman SMP. Sebenarnya dulu di rumahku tidak ada tanaman hias. Tanaman hias itu bermula dari keisenganku menanam tanaman-tanaman yang liar di gelas air minum atau wadah yang sejenis itu. Kalau tidak salah ini SD deh. Di pojok rumah aku menyusun papan sehingga bertingkat-tingkat. Nah disitulah aku menaruh tanaman-tanaman kecilku. Aku menanam bunga apapun yang menarik perhatianku. Tidak tergantung pada pendapat orang lain. Kan ada itu pendapat masyarakat umum yang mengatakan bahwa bunga ini lebih baik daripada yang ini. Padahal sebenarnya bunga itu tidak indah ji, Cuma karena pendapat umum mengatakan itu indah jadi kesimpulannya indah. Pokoknya pada masa-masa awal aku menanam tanaman-tanaman yang menarik perhatianku, tanaman yang menyembul di semak-semak, tanaman yang terlantar dan tidak diperhatikan. Aku kan tinggal di kampug jadi banyak itu tanaman-tanaman liar yang indah. Betapa serunya ketika aku masih seperti itu, tapi kawan seiring perkembangan aku jadi terpengaruh orang lain. Aku mulai menanam tanaman yang katanya orang indah. Tapi tidak terpengaruh berat juga soalnya pernah aku kecewa. Ada ibu guru yang mengomentari sebuah bunga katanya bunga itu bagus sekali kalau sudah besar. Ketika aku menanam bibitnya dan sudah menjadi besar ternyata bagusnya tidak seperti yang aku harapkan.

Hobiku yang suka menanam bunga itu sepertinya mulai menulari ibuku. Tiba-tiba beliau mulai membelikan aku pot plastik. Nah mulailah tanamanku terupgrade. Aku akhirnya memiliki bermacam-macam jenis bunga. Teras yang memiliki tangga memanjang itu dibuat untuk tempat pot bungaku. Seiring waktu minat ibuku terhadap bunga menjadi semakin meningkat saja. Beliau berkontribusi juga dalam keanekaragaman tanaman hias dalam pot yang ada di depan rumah. Kami pernah membuat pot sendiri dari campuran semen yang caranya aku baca dari buku di perpustakaan. Aku suka membaca buku tentang kerajinan tangan dan bercocok tanam. Sekarang ibuku sangat mencintai bunga-bunga yang ada di depan rumah itu, setiap meninggalkan rumah, ibuku selalu mengingatkan orang di rumah untuk menyiram bunga setiap pagi dan sore. Bahkan pernah bilang padaku bahwa beliau akan memberikan uang jajan pada anak tetangga untuk menyiram bunganya ketika akan ke Makassar karena tidak yakin ayahku akan melakukannya.

Namun pada saat sekarang ini, bungaku sudah banyak yang hilang. Mugkin gara-gara mati. Aku kan sudah lama tidak tinggal di kampung. Dulu aku punya krisan tiga warna, kuning, ungu dan putih. Yang ada sekarang Cuma warna kuning saja. Sedihnya… juga kaktus. Aku punya kaktus yang bulat-bulat itu tapi sekarang udah gak ada. Yang ada itu bunga kaktus yang panjang ke atas. Kaktusku itu unik sekali. Batangnya yang satu itu tinggi menjulang ke atas sampai-sampai hampir mencapai atap. Tapi pada akhirnya tidak pernah sampai. Mengapa? Karena ayahku menebangnya di tengah-tengah. Aku tidak mengerti juga kenapa ayahku menebangnya, kenapa coba, itu kan tidak mengganggu. Apa mungkin karena terlihat berbahaya karena menjulang tinggi sendirian? Entahlah…

Kembang kertas, nah bunga ini merupakan favorit ibuku. Aku suka menyambung kembang kertas ini dengan jenis yang lain. Jadi dalam satu pohon bisa punya dua warna bunga yang berbeda. Ada merah dan putih. Di masa SMPku tren bunga ini yang lagi booming. Banyak orang di kampungku yang melakukan hal serupa. Jadi aku ikutan juga. Betapa menyenangkan melihat jika sambungan yang kita lakukan berhasil. Bunga itu punya tren juga ternyata. Ketika bunga ini yang populer maka berikutnya bisa bunga itu yang populer. Seperti kembang kertas, aku ikut tren karena aku memang menyukainya. Tapi ketika bunga terkini yang lagi tren di kampungku, aku tidak ikut lagi soalnya aku kurang suka bunga ini. Entahlah kurang menarik saja. Aku lebih menyukai tanaman hias yang keindahannya itu pada bunganya daripada karena daunnya.

Bunga matahari juga pernah tumbuh di pekarangan rumah. Bunganya besar dan indah. Aku sangat menyukainya namun sekarang tidak adalagi. Sedih… termasuk tanaman-tanaman awal yang aku punya itu adalah nona makan sirih. Bunga ini indah tapi aku tidak mengerti mengapa orang jarang yang menanamnya ya? Bahkan terkesan diabaikan. Betapa indahnya nona makan sirih jika melilit di tiang yang melengkung.

Masa SMA. Pada masa ini ketika MOS kita disuruh untuk bawa tanaman hias. Di sarankan bawa bunga kamboja. Mulanya kupikir bunga kamboja itu adalah bunga yang nama aslinya adalah bunga mentega atau alamanda (nama yang kutahu ketika kuliah). Betapa memalukan memikirkannya sekarang ketika aku berdebat dengan Ida, menegaskan dengan keras kepala bahwa bunga mentega adalah bunga kamboja. Fyuh… bunga kamboja ternyata adalah bunga yang banyak tumbuh di kuburan. Bunga mentega yang menjadi bahan pembicaraan tersebut banyak tumbuh liar di dekat pendakian menuju desa Balebo. Maaf ya Ida… Bunga Kamboja termasuk bunga yang populer di masyarakat umum tapi yah di mataku kurang menarik.

Bunga kembang sepatu, nah bunga ini yang ada hubungannya dengan kisah cintaku yang kurang menyenangkan kalau tidak mau dibilang menyedihkan. Kembang sepatu warna orange yang tumbuh di samping kelas ketika SMA benar-benar menimbulkan rasa pahit manis jika melihat bunga itu kembali. Bunga itu selalu mekar dan menjadi saksi ketika aku dan teman-teman sedang duduk di samping kelas, bercerita pada siang hari, terkadang juga sore jika ada les. Oh ini bukan kisah cinta seperti memetik bunga kembang sepatu itu dan memberikannya kepada yang tercinta, bukan cerita seperti itu. Bunga itu hanya di situ, diam dan hanya menyaksikan aku yang menyaksikan diam-diam orang yang kusukai tersebut. Ketika dia datang di pagi hari. Ketika aku meliriknya diam-diam. Ketika melihat punggungnya berjalan pulang di sore hari. Ah, entahlah, aku merasa kembang sepatu orange itu menyaksikan semuanya. Itulah mengapa aku seperti tertarik ke masa lalu jika melihat kembang sepatu orange. Mau tidak mau aku jadi tersenyum melihat diriku yang itu. Terkadang yang menyedihkan juga bisa menyenangkan, tergantung waktunya.

Ketika kuliah ada satu bunga yang baunya lebih kusukai daripada bunga mawar merah. Dialah bunga pacci’ kaju kalau dalam bahasa tae’. Aku tidak tahu bahasa Indonesianya. Pokoknya baunya benar-benar harum dan aku sangat-sangat menyukainya. Setiap ke kampus dan melewati rumah yang ada pacci’ kayunya itu, aku akan selalu mengendus-ngendus untuk mendapatkan bau bunga itu. Jika aku sudah merasakan baunya, aku akan terdiam sesaat dan menarik nafas dalam-dalam. Aku selalu berfikir kenapa tanaman ini tidak dijadikan bahan parfum ya, padahal wangi begitu. Mungkin karena tanaman ini cuma ada di Indonesia dan mungkin juga para pelaku bisnis parfum belum menemukan bunga ini, itu juga ada di pikiranku. Yang jelas jika punya rumah sendiri nanti, aku berniat menanam tanaman ini di dekat jendela kamarku sehingga setiap pagi jika aku membuka jendela aku akan mendapatkan keharuman yang begitu menyegarkan. Kurasa tidak berlebihan jika kukatakan bahwa jika ada bau yang paling kusukai maka bau bunga paci’ kajulah yang nomor 1

Penulis: kasriani

Sebuah perjalanan mencari jati diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s