Mencerminkan Diri dan Lain-lain

Menulis itu aku rasa memerlukan waktu tertentu dimana kita merasa  sangat tergelitik untuk melakukannya. Nah, saat ini aku berada pada masa tergelitik itu. Hal ini dikarenakan kemarin aku membuka Twitter dimana peristiwa ini adalah kejadian yang cukup langka bagiku. Mengapa? Aku kurang tertarik dengan Twitter, peristiwa begitu cepat menghilang jika kau mengerti maksudku. Dan cara mengomentarinya itu aku dibuat bingung. Berbeda dengan Facebook, aku sangat suka menggunakannya. Itulah mengapa aku sering bertanya, mengapa orang bisa suka Twitter? Yang bisa ditulis pun cuma terbatas.

Ah terlalu melenceng sudah yang ingin sebenarnya kutulis. Ini tentang temanku. Seperti kukatakan tadi, aku membuka Twitter dan merasa tertarik dengan akun salah seorang temanku itu. Lalu aku bukalah. Sungguh terkejut diriku mengetahui dirinya yang sekarang. Dia telah melangkah begitu jauh sementara jika dibandingkan dengan diriku, aku masih jalan di tempat. Jika kupikir-pikir, dia ke NTB, aku di kos. Dia ke Gunung Bromo, aku di kos. Hiks… perbandingan yang sungguh memiriskan hati. Info dia kemana itu aku tau dari blog pribadinya. Blog yang alamatnya ada di twitternya.  Menyenangkan sebenarnya membaca blog seseorang, seperti membaca diary. Ini yang kutulispun mungkin sebenarnya adalah diary yang kupindahkan dari kertas.

Temanku itu jika kuingat, kubuka lagi lembaran masa lalu bertahun-tahun sebelumnya. Dia adalah teman sekelas ketika duduk di bangku kelas 1  di SMA 1 Masamba. Ketika kuperhatikan lebih baik antara kenangan yang ada dengan dirinya yang sekarang, hem wajahnya lebih kelihatan tua yang membuatku terkejut. Jika dia terlihat sudah setua itu lalu aku seangkatan dengannya, bagaimana mi itu mukaku? Begitu ma juga? Ha…ha… kaget menghadapi kenyataan hidup. Berasa masih mudah padahal waktu menggerogoti perlahan-lahan tanpa di rasa. Jika berbicara tentang umur, yang terlintas secepat kilat di kepala adalah ,menikah (colek Ati, siapa tau kobaca ini toh). Hem..

Jika pembahasannya tentang SMA dan kelas 1, ada banyak yang bisa kucerita. Tentang di depan kelasku yang  ada lab biologi. Tentang pohon jambu air di depan sebelah kirinya. Pohon jambu air itu baru kemudian ketika kelas 2 kucicipi bagaimana rasanya. Saat itu sore, teman laki-laki yang memanjatnya sedang aku dan teman perempuan berada di bawah pohonnya. Perintah itu di sana, itu di sini. Rasanya ternyata agak kecut kalau tidak mau dibilang memang kecut. Satu fakta yang menarik bahwa rasanya berbeda jika dimakan bersama-sama dari pada sendiri. Rasanya jadi lebih manis jika kita memakannya bersama-sama. Jika kupikir kembali, ternyata bukan jambu airnya yang menyenangkan tapi kebersamaannya itu.

Ah, yang kucerita tadi masih masalah lingkungannya, belum pada  intrik-intriknya. Tentang yang benci satu sama lain, tentang yang meremehkan orang lain. Tentang benci itu, mungkin memang ada orang yang terlahir dengan dibenci kebanyakan orang? Saya sebenarnya kurang mengerti mengapa ada seorang teman yang dibenci oleh sebagian besar teman-teman di kelas padahal kalau dikenal lebih dekat, dia sangat baik. Mungkin benarlah apa yang dikatakan oleh Harper Lee dalam novelnya yang luar biasa “To Kill a Mocking Bird” bahwa  kau baru bisa memahami seseorang kalau kau sudah memandang suatu situasi dari sudut pandangnya. Baiklah aku singgung sedikit tentang novel ini karena kemarin ketika selesai membacanya aku ingin menulis sesuatu tentang betapa hebat cerita di dalamnya. Kisah yang benar-benar di dalamnya menebarkan banyak pelajaran hidup. Ah baiknya kurasa aku tulis tentang buku yang aku sukai pada catatan yang lain saja.

Kembali pada apa yang aku tulis mengenai temanku yang kurasa aku sedikit iri padanya. Dia telah melangkah jauh yang membuatku sadar bahwa aku tak bisa terus begini. Akupun pada akhirnya harus melangkah juga, melangkah yang langkahnya dimulai dari jejak pertama meninggalkan kos. ^^. Itu Cuma perumpamaan tidak selamanya saya  menjadi mahasiswa bukan? Langkah pertama yang paling pertama saat ini adalah kerjakan TA!!! Ini sudah kutunda-kutunda sampai sesuatu dalam diriku yang tidak kutahu dimana tepatnya sudah mulai memberontak. Untuk diriku yang malas, yang takut mengahadapi kehidupan nyata, mulailah ketikan huruf di kertas A4, Times New Roman, font 12, margin 4 4 3 3 untuk Tugas Akhirmu! Untuk orang di luar sana yang mungkin keadaaanya sama, mulailah! Karena malas itu adalah salah satu penyakit paling berbahaya di dunia selain cinta.

Penulis: kasriani

Sebuah perjalanan mencari jati diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s